Uncategorized

Pernah Disorot Lewat Polemik “Candi Bentar-Bentir”, Kini PT Bianglala Bali Kantongi Proyek Rp131,1 Miliar: Publik Pertanyakan Rekam Jejak dan Proses Evaluasi Tender

Ditulis oleh Jurnalis Ceritaterkini pada August 4, 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

BADUNG – Keputusan pemerintah menetapkan PT Bianglala Bali sebagai pemenang tender pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali senilai Rp131,1 miliar memantik gelombang pertanyaan baru. Bukan semata karena nilai proyeknya yang fantastis, melainkan karena perusahaan tersebut pernah menjadi sorotan publik dalam proyek renovasi penyengker Pantai Seminyak, Legian, dan Kuta pada 2023 yang melahirkan istilah viral “candi bentar-bentir”.

 

Proyek yang kala itu menelan anggaran sekitar Rp27,3 miliar dari APBD Badung menjadi bahan kritik masyarakat setelah hasil bangunannya dinilai tidak presisi. Foto-foto candi bentar yang tampak miring dan tidak simetris menyebar luas di media sosial hingga memunculkan cibiran terhadap kualitas pekerjaan proyek pemerintah.

 

Alih-alih meredup, polemik tersebut kini kembali menyeruak setelah PT Bianglala Bali justru memenangkan proyek baru dengan nilai yang melonjak hampir lima kali lipat.

 

Berdasarkan data tender, pembangunan Museum Taman Perdamaian Bali memiliki pagu anggaran sekitar Rp145,7 miliar dengan HPS sekitar Rp133,79 miliar. Dari proses tersebut, PT Bianglala Bali ditetapkan sebagai pemenang dengan nilai penawaran Rp131.105.658.871.

 

Penetapan itu memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai sejauh mana rekam jejak penyedia menjadi bagian dari evaluasi dalam proyek strategis bernilai ratusan miliar rupiah. Meski proses tender memiliki ketentuan administratif dan teknis yang harus dipenuhi peserta, publik menilai kualitas pekerjaan sebelumnya juga menjadi aspek yang patut mendapat perhatian.

 

Museum Taman Perdamaian Bali bukanlah proyek biasa. Bangunan yang akan berdiri di kawasan Kuta itu diproyeksikan menjadi ikon baru Bali sekaligus simbol perdamaian dunia. Nilai investasi yang besar membuat masyarakat menaruh ekspektasi tinggi terhadap mutu konstruksi, ketepatan pekerjaan, serta pengawasan selama pelaksanaan proyek.

 

Pengalaman polemik “candi bentar-bentir” menjadi pengingat bahwa proyek pemerintah tidak hanya diukur dari kelengkapan administrasi dan penyelesaian pekerjaan, tetapi juga dari kualitas hasil akhir yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

 

Karena itu, kemenangan PT Bianglala Bali dalam tender bernilai Rp131,1 miliar tidak hanya menghadirkan harapan, tetapi juga membawa beban ekspektasi yang jauh lebih besar. Publik dipastikan akan mengawasi setiap tahapan pembangunan museum tersebut secara lebih ketat.

 

Sorotan masyarakat kini tidak lagi berhenti pada siapa yang memenangkan tender, melainkan bagaimana proyek tersebut akan dikerjakan. Sebab setiap rupiah yang berasal dari uang rakyat menuntut transparansi, akuntabilitas, dan kualitas yang tidak menyisakan ruang bagi polemik baru.

 

Museum Taman Perdamaian Bali diharapkan menjadi simbol kemajuan, bukan kembali menjadi bahan perdebatan. Di titik inilah pengawasan pemerintah, konsultan, dan seluruh pemangku kepentingan akan menjadi penentu apakah proyek ratusan miliar rupiah tersebut mampu menjawab keraguan publik atau justru mengulang catatan yang pernah mencoreng kepercayaan masyarakat.

Ditulis oleh Jurnalis Ceritaterkini

Jurnalis dan penulis berita di Ceritaterkini Media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian