Daerah

8.077 Anak di Buleleng Tak Sekolah, Disdikpora Luncurkan JOSS untuk Percepat Penanganan

Ditulis oleh Jurnalis Ceritaterkini pada September 10, 2026 • ⏱️ 2 Menit Baca

Singaraja, SINARTIMUR.co.id – Sebanyak 8.077 anak di Kabupaten Buleleng, Bali, tercatat tidak sekolah. Pemerintah Kabupaten Buleleng kini menyiapkan langkah percepatan penanganan melalui platform digital Jaringan Operasional Sekolah Kesetaraan (JOSS) Buleleng.

JOSS Buleleng resmi diluncurkan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng di Aula Disdikpora Buleleng, Kamis (10/9/2026).

Peluncuran dan sosialisasi platform tersebut diikuti secara luring dan daring oleh perangkat daerah, pemerintah desa, serta satuan pendidikan kesetaraan di seluruh Kabupaten Buleleng.

Kepala Disdikpora Kabupaten Buleleng Ida Bagus Gede Surya Bharata mengatakan, JOSS Buleleng merupakan sistem pendukung untuk mempercepat penanganan anak tidak sekolah (ATS) secara lebih terintegrasi dan berbasis teknologi.

“JOSS Buleleng merupakan akronim dari Jaringan Operasional Sekolah Kesetaraan. Platform ini kami hadirkan sebagai salah satu support system untuk melakukan penanganan anak tidak sekolah di Kabupaten Buleleng secara lebih intensif, terintegrasi, dan berbasis teknologi,” ujar Surya Bharata.

Tak Sekadar Pendataan

Menurut Surya Bharata, JOSS Buleleng tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi pendataan ATS.

Platform ini juga menjadi pusat informasi mengenai layanan pendidikan kesetaraan sekaligus sarana koordinasi lintas sektor dan pendaftaran pendidikan kesetaraan secara daring.

Melalui JOSS Buleleng, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai pendidikan kesetaraan jenjang Paket A, Paket B, hingga Paket C.

Pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga dapat mengetahui warga di wilayahnya yang belum menuntaskan pendidikan dasar maupun menengah untuk kemudian diarahkan mengikuti pendidikan kesetaraan.

“Melalui JOSS Buleleng, masyarakat dan pemerintah desa dapat mengetahui siapa saja warga yang belum menuntaskan sekolahnya dan langsung mendapatkan akses layanan pendidikan kesetaraan sesuai jenjang dan usianya,” kata dia.

Saat ini, sebanyak 14 satuan pendidikan kesetaraan di Buleleng telah terintegrasi dalam sistem JOSS Buleleng.

Platform tersebut memuat informasi lembaga penyelenggara, data peserta didik aktif Paket A, Paket B, dan Paket C, kurikulum pembelajaran, serta mekanisme pendaftaran secara daring.

Potong Hambatan Informasi

Surya Bharata mengatakan, JOSS Buleleng diluncurkan salah satunya karena masih rendahnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan kesetaraan.
Salah satu penyebabnya adalah kesenjangan informasi mengenai layanan pendidikan yang tersedia.

“Layanan ini hadir untuk memberikan akses informasi yang cepat, transparan, dan terpadu kepada seluruh masyarakat. Hambatan informasi yang selama ini menyebabkan masyarakat kesulitan mengakses pendidikan kesetaraan kita potong melalui JOSS Buleleng,” tegasnya.

Data dalam platform tersebut akan diperbarui secara berkala untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai sebaran satuan pendidikan kesetaraan, layanan yang tersedia, hingga proses pendaftaran.

Disdikpora Buleleng juga akan menggencarkan sosialisasi bersama Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik, pemerintah desa, serta lembaga terkait.

“Kami berharap seluruh stakeholder terus berkolaborasi sehingga masyarakat yang belum menuntaskan pendidikan dapat segera terlayani melalui pendidikan kesetaraan,” ujar Surya Bharata.

8.077 Anak Jadi Sasaran Penanganan

Dalam peluncuran tersebut, Surya Bharata juga memperkenalkan SPAT SIKU atau Sistem Penanganan Anak Tidak Sekolah Secara Inklusif Menuju Buleleng Bebas ATS.

SPAT SIKU merupakan sistem penanganan ATS yang mengintegrasikan enam sistem layanan, termasuk JOSS Buleleng.

Berdasarkan data Disdikpora Buleleng, terdapat sekitar 8.077 anak tidak sekolah di wilayah tersebut.

Seluruh anak tersebut akan diidentifikasi dan diverifikasi berdasarkan kondisi riil di lapangan. Langkah itu dilakukan agar setiap anak mendapatkan penanganan dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah dan rata-rata lama sekolah, sekaligus berdampak terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Buleleng.

Peluncuran JOSS Buleleng menjadi bagian dari tindak lanjut Keputusan Bupati Buleleng Nomor 100.3.3.2/254/HK/2026 tentang Tim Koordinasi Daerah Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah Kabupaten Buleleng.

Melalui platform tersebut, Pemkab Buleleng menargetkan penanganan ATS dilakukan secara bertahap, menyeluruh, dan melibatkan berbagai sektor demi mewujudkan Buleleng Bebas Anak Tidak Sekolah.

Writer: Francelino
Editor: Francelino

Ditulis oleh Jurnalis Ceritaterkini

Jurnalis dan penulis berita di Ceritaterkini Media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian