35 UMKM Ramaikan Bali Interfood 2026, Produk Lokal Bidik Pasar Hotel hingga Mancanegara
NUSA DUA – Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 6,91 persen pada Triwulan II 2026 menjadi sinyal positif bagi geliat dunia usaha, termasuk industri makanan dan minuman (F&B) yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata Pulau Dewata.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tercatat memberikan kontribusi 21,91 persen terhadap struktur perekonomian Bali. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya pasar yang tersedia bagi produsen bahan pangan, pengusaha kuliner, pemasok peralatan, hingga pelaku usaha kecil dan menengah yang ingin masuk ke rantai pasok industri hospitality.
Peluang tersebut salah satunya coba dimanfaatkan melalui Bali Interfood 2026, yang memasuki penyelenggaraan ke-7 dan akan berlangsung pada 2–4 September 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali.
Menariknya, dari 110 peserta yang ambil bagian dalam pameran tersebut, sebanyak 35 di antaranya merupakan UMKM.
Kehadiran puluhan UMKM menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaraan Bali Interfood 2026. Sebab, pameran tidak hanya mempertemukan perusahaan besar dan pemain industri internasional, tetapi juga membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus mencari pasar baru.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan Bali memiliki potensi besar karena sektor pariwisata, hotel, restoran, dan usaha makanan dan minuman berkembang secara bersamaan.
Menurutnya, Bali Interfood diharapkan menjadi tempat bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, bertemu calon mitra, sekaligus mendapatkan informasi mengenai perkembangan terbaru industri F&B.
Potensi tersebut semakin terbuka dengan kehadiran peserta dari delapan negara, yakni China, Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis.
Bagi UMKM lokal, keberadaan peserta internasional sekaligus membuka peluang untuk melihat secara langsung perkembangan produk, teknologi, maupun kebutuhan pasar global.
Di sisi lain, karakter Bali sebagai destinasi wisata internasional membuat kebutuhan industri makanan dan minuman relatif luas. Hotel, restoran, kafe, bakery, catering hingga berbagai usaha kuliner membutuhkan pasokan produk dan bahan baku secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi UMKM untuk tidak hanya menjual produk kepada konsumen akhir, tetapi juga mengembangkan model bisnis business-to-business (B2B) dengan menyasar industri hospitality.
Peluang tersebut diperkuat melalui Business Matching Room Bali Interfood 2026. Sejumlah agenda networking disiapkan untuk mempertemukan purchasing dan supplier Ho.Re.Ca.Ba dengan para exhibitor.
Program seperti Ngopi Darat with Purchasing & Supplier Ho.Re.Ca.Ba Bali, Coffee Morning with APKRINDO & APRINDO Bali, Afternoon Tea with IKABOGA & PHRI Bali, serta Meetup with Bali Restaurant Café Associations menjadi ruang untuk membuka komunikasi langsung antara pembeli dan pemasok.
Dengan pola tersebut, pameran diharapkan tidak berhenti pada aktivitas melihat dan memperkenalkan produk. Pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk mengetahui kebutuhan industri secara langsung, membangun jaringan, melakukan sourcing, hingga menjajaki kemungkinan kerja sama.
Selain memperluas akses pasar, Bali Interfood 2026 juga menghadirkan berbagai program peningkatan kompetensi. Melalui Krista Training Center by IKABOGA, misalnya, tersedia program Sertifikasi BNSP untuk sejumlah bidang profesi kuliner, termasuk Chef de Partie, Demi Chef, Baker, dan Commis Pastry.
Sementara itu, berbagai kompetisi dan workshop dihadirkan untuk mempertemukan pelaku industri dengan perkembangan teknik dan tren terbaru di dunia kuliner.
Program internasional Gelato World Cup Indonesian Selection juga menjadi salah satu agenda unggulan. Selama tiga hari, pengunjung dapat menyaksikan kompetisi sekaligus berbagai workshop gelato.
Tidak hanya gelato, pameran juga menghadirkan program kopi, bakery, pastry, wine pairing, hingga berbagai demo masakan.
Rangkaian program tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri F&B tidak hanya membutuhkan produk, tetapi juga inovasi, teknologi, kreativitas, kualitas SDM, serta kemampuan membaca perubahan selera konsumen.
Di tengah pertumbuhan ekonomi Bali dan dominasi sektor pariwisata dalam menggerakkan aktivitas ekonomi daerah, industri F&B memiliki posisi strategis untuk terus berkembang.
Bali Interfood 2026 kemudian menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan potensi tersebut. Dengan melibatkan UMKM, perusahaan nasional, serta peserta internasional, pameran ini membuka peluang agar produk lokal tidak hanya dikenal di pasar Bali, tetapi juga memiliki kesempatan masuk ke jaringan industri yang lebih luas.
Dengan target 15.000 pengunjung, Bali Interfood 2026 diharapkan menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar, memperkuat jejaring, dan menangkap peluang bisnis dari terus berkembangnya sektor pariwisata dan hospitality Bali.

Leave a Reply